PERILAKU KONSUMTIF DI INDONESIA

  Pengertian Perilaku Konsumtif

Lubis (Sumartono, 2002) mengatakan perilaku konsumtif adalah perilaku yang tidak lagi berdasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional lagi. Sedangkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (dalam Sumartono, 2002) mengatakan perilaku konsumtif adalah kencenderungan manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas dan manusia lebih mementingkan faktor keinginan dari pada kebutuhan.

Sedangkan Anggasari (dalam Sumartono, 2002) mengatakan perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang-barang yang kurang atau tidak diperhitungkan sehingga sifatnya menjadi berlebihan. Lebih lanjut Dahlan (dalam Sumartono, 2002) mengatakan perilaku konsumtif yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paling mahal yang memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh semua keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata.

Pengertian Gaya Hidup

Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1995) dan Mowen (1995) gaya hidup adalah suatu pola hidup yang menyangkut bagaimana orang menggunakan waktu dan uangnya. Gaya hidup juga dapat didefinisikan sebagai suatu frame of reference atau kerangka acuan yang dipakai seseorang dalam bertingkah laku, dimana individu tersebut berusaha membuat seluruh aspek kehidupannya berhubungan dalam suatu pola tertentu, dan mengatur strategi begaimana ia ingin dipersepsikan oleh orang lain.

 

PERILAKU KONSUMTIF DI INDONESIA

Perilaku konsumtif masyarakat indonesia terbilang tinggi, hal ini sangat dipengaruhi dengan gaya hidup masyarakat yang juga terbilang tinggi. Dalam hal ini berarti gaya hidup sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat indonesia. Padahal perilaku semacam itu sangat tidak diperlukan, mereka yang memiliki perilaku konsumtif yang tinggi rela menghabiskan uang mereka untuk hal yang mungkin sama sekali tidak perlu, mereka hanya ingin dilihat oleh orang-orang bahwa mereka adalah orang yang mampu membeli apa saja, bahkan ada yang sampai rela berhutang hanya untuk menuruti nafsu konsumtifnya. Faktanya konsumen yang tak kritis terhadap apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak, hanya menjadi budak terhadap nafsu konsumtifnya.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s